Showing posts with label adventure. Show all posts
Showing posts with label adventure. Show all posts

April 22, 2020

Pergi Umroh di Tengah Wabah Corona

Tulisan terakhir di blog ini tahun lalu, sekarang udah tahun 2020. Sudah setahun gak pernah update nulis blog lagi. Selain gw ada kesibukan yang lain, gw juga belum ada bahan mau nulis atau cerita apa di blog ini.

Awal tahun 2020, alhamdulillah dapat panggilan hati untuk melaksanakan ibadah umroh. Ini adalah pengalaman pertama gw melaksanakan ibadah umroh dan melakukan perjalanan terbang selama 10 jam kurang lebihnya. Ibadah umroh yang gw jalani ini, bisa dikatakan spesial buat gw. Beraawal dari sebuah rencana iseng menabung di tabungan syariah dan melihat brosur untuk tabungan haji, gw memutuskan untuk membuka tabungan haji.

Gw buka tabungan haji di bank CIMB Niaga Syariah, karena waktu itu ada promo dari pihak Bank. Saat ini, untuk mendapat nomor antrian berangkat haji harus setor uang senilai 25 juta rupiah. Setelah itu baru dapat nomor antrian. Rata-rata masa tunggu calon jemaah haji Indonesia adalah 7-15 tahun untuk yang reguler, beda cerita kalau yang pakai ONH Plus. Masa tunggunya tidak selama itu dan waktu di Mekah dan Madinahnya tidak terlalu lama.

Setelah dana terkumpul dengan menyisihkan dana  setiap bulannya, dilema terjadi. Pilih haji atau umroh dulu. Tanya ke beberapa orang yang ahlinya dan mencari tahu juga melalui forum-forum di internet, skornya sama kuat. Ada yang bilang haji dulu, karena saat haji bisa melaksanakan umroh. Ada juga yang bilang umroh dulu, karena masa tunggu haji yang bertahun-tahun, belum tentu ada umur.

Setelah mempertimbangkan dengan matang, akhirnya gw memilih untuk umroh dahulu. Gw berangkat umroh bareng istri, anak-anak ditinggal dulu di rumah. Saat memilih travel umroh, sempat bingung juga, takut. Semenjak kejadian First Travel, ada ketakukan dalam memilih travel umroh. Alhamdulillah, tetangga rumah di komplek perumahan ada yang bekerja di travel umroh. Gw pilih travelnya, alasannya satu kalau ada masalah gw tahu harus mencari kemana dan siapa yang gw cari. 

Bimbang haji dulu atau umroh, kemudian bimbang pilih travel, selanjutnya bimbang memilih paket umroh yang ditawarkan. Istri memilih paket umroh keberangkatan di bulan Maret, paket umroh yang ditawarkan plus destinasi di Turki. Jujur, dari hati gw gak sreg dengan pilhan istri. Secara perlahan, gw coba ngobrol sama istri, tujuan kita itu sebenarnya kemana? Umroh atau ke Turki? Selain biayanya juga lumayan mahal ditambah tujuan dan niatnya udah berubah, bukan Umroh tapi ke Turki.

Alhamdulillah, istri mau mengerti dan akhirnya beberapa hari kemudian gw bilang ke travel kalau gw merubah paket umroh. Paket keberangkatan di bulan Januari. Hari yang di nanti pun tiba, gw dan rombongan umroh berangkat dari Jakarta dan tiba di Madinah jam 2 pagi waktu setempat. Perbedaan waktunya 4 jam lebih lama dibanding Indonesia.

Masjid Nabawi, masjid terindah di muka bumi
Gw pernah berpikir dan merenung, banyak (termasuk gw) yang rela menabung bahkan berhutang untuk memiliki mobil baru, rumah baru, handphone baru, bahkan jalan-jalan ke eropa. Sejak itu gw berniat, bisa lah ini gw menabung untuk beribadah. Prinsip gw, ibadah itu harus dipaksakan karena nantinya juga terbiasa.

Sholat Jumat terakhir, sebelum tawaf wada'


By the way, saat gw pergi umroh. Virus corona sedang terjadi, alhamdulillah belum sampai ke Arab Saudi dan belum diberlakukannya lock-down. Manusia boleh punya rencana yang baik, tapi sebaik-sebaik rencana adalah milik Allah SWT. Seandainya gw tetap memilih keberangkatan di bulan Maret, sampai sekarang pun mungkin gw masih belum beribadah umroh. Dari situ gw bisa ambil pelajaran, kalau punya niat baik apalagi berhubungan dengan ibadah dan Allah SWT, segera dilakukan. Jangan ditunda-tunda, apalagi kalau sudah mantap niatnya, insya Allah akan dimudahkan.

Ambil miqot di Bir'Ali sebagai salah satu niat umroh


Kalau yang masih penasaran seperti apa kegiatan gw selama di Madinah dan Mekah yang tentunya selain beribadah, gw juga mengunjungi tempat bersejarah dalam Islam dan tempat paling indah, makam Nabi Muhammad SAW. Kalian bisa cek di channel youtube gw di bawah ini



Selamat menikmati..!! :)

January 18, 2018

Yogyakarta (Family Trip) - Part 3 (selesai)


Hari ke-3 di Yogyakarta.


Di hari terakhir liburan di Jogja dimulai dengan rasa capek dan pegel di kaki serta seluruh badan. Anak-anak pun juga masih belum fit, masih ada gangguan di pencernaan mereka. Kebetulan hari ke-3 di Jogja ini bertepatan di hari Jumat. Buat gw, jalan-jalan di hari Jumat itu kurang asik! waktunya yang pendek karena kepotong harus dan kudu solat Jumat (ini bukan mengeluh). Setelah rembukan sama bini, diputuskan untuk jalan-jalan kota Jogja after solat Jumat. Jadi anak-anak dan istri gw bisa istirahat agak lama sembari nunggu gw solat Jumat.


Setelah solat Jumat, langsung beberes dan pesen taksi online. Oh iya, untuk muter-muter kota Jogja, saran gw sih better pakai taksi online daripada sewa mobil. Selain lebih praktis, menurut gw juga lebih hemat. Tujuan kami adalah Museum De Mata yang letaknya di Pandeyan, Yogyakarta. Di dalam Museum De Mata ini ada 3 tempat yang bisa dijelajahi.

1. De MATA
Di lokasi ini kalian bisa berfoto sepuasnya yang penting tetap antri dengan objeknya adalah lukisan 3D. Tinggal ambil angle yang tepat, cekrek! dan lihat hasilnya. Di dalam museum ini juga terdapat petugas relawan yang siap dimintai tolong untuk mengambil momen berharga bersama keluarga.

De Mata
hati-hati..!

Museum De Mata
kapan lagi naik perahu

ini difotoin sama petugas museum nya

Museum De MATA
Semoga kalian tidak muntah dan mimpi buruk

2. De ARCA
 Di lokasi ini semacam patung lilin milik Madamme Tussaud. Hampir semua tokoh terkenal ada disini. Dari pahlawan Indonesia, Presiden beberapa negara seperti Korut, Amerika dan Palestina. Tapi di Museum De ARCA jangan berharap patung lilin nya bakalan mirip seperti aslinya ya. :)

katanya, dia penemu produk apel digigit

sama siapa hayo??

3. De WALIK
 Nah kalau disini semua ornamen dan objek fotonya serta terbalik. Maka dari itu namanya De Walik (kebalik). Sketsa yang ditawarkan pun beraneka macam, dari sketsa di kamar tidur, dapur, panggung musik, bahkan sketsa di ruang kelas juga ada. Tentunya dengan semua peralatan terbalik.

disuruh tidur malah, ngbrol di langit-langit

berjalan di dinding


Selesai dari Museum De MATA, kami gak sempat kemana-mana lagi karena sudah sore banget dan sempat hujan lebat. Diputuskan untuk kembali ke Hotel untuk bersih-bersih dan makan. Selepas makan malam, lanjut sewa bentor dari depan hotel dan ke tempat oleh-oleh sekalian lihat suasana Malioboro yang sudah kayak lautan manusia.

Oh iya, untuk tiket masuk ke Museum De MATA ini masih terjangkau. Waktu itu gw kena di harga 140 ribu rupiah untuk satu dewasa dan anak di bawah 5 tahun gratis. Harga tiketnya berbeda untuk weekdays ataupun weekend. Begitu juga di high season dan regular day, harganya juga berbeda. Detailnya bisa dilihat di websitenya Museum De MATA [klik disni]


Total budget yang dikeluarkan selama di Jogja 4D3N adalah 3.220.000 rupiah. Itu sudah termasuk biaya transportasi dari Bogor ke Bandara pulang pergi, Bandara-Hotel (PP), makan, sewa mobil, taksi online, mampir ke UGD RS Hermina :), biaya masuk tempat wisata, dan printilan lainnya.


Kalau untuk biaya hotel dan pesawat, ini tergantung dari kapan saat booking hotel dan pesawatnya. Kebetulan gw sama keluarga dapat harga totalnya adalah 6,2 juta rupiah. Untuk waktu peak season harga tiket pesawat PP dan hotel diangka segitu, tergolong murah.

January 11, 2018

Yogyakarta (Family Trip) - Part 2

Maaf baru sempat posting, akhir pekan kemarin ada kegiatan di luar kota dan lupa bawa senjata buat update blog..


Menyambung postingan sebelumnya, family trip ke Yogyakarta akhir tahun 2017 kemarin sudah gw prepared dengan sangat baik. Dimulai dari destinasi tempat yang akan kami kunjungi, tempat menginap, dan transportasi yang akan digunakan. Berangkat, Rabu 27 Desember 2017 sekitar jam 11 siang dari Bandara Halim Perdanakusuma. Tiba di Jogja sekitar jam 2 siang dan mengantri bagasi yang lumayan lama. Menuju Pesonna Tugu Hotel, tempat kami menginap dengan menggunakan jasa taksi online. Karena, tarifnya jauh lebih murah dibandingkan menggunakan jasa taksi yang ada di bandara. Tarifnya bisa 3x lipat. Kan lumayan selisihnya bisa buat beli oleh-oleh.



Perjalanan dari bandara menuju hotel agak lumayan macet, padat dan merayap. Setiba di hotel sudah sangat sore, anak-anak sangat lelah. Gw istirahat dahulu sambil bersih-bersih. Drama dimulai ketika abak sulung gw, kelihatan lesu setelah mandi. Sempat muntah juga di hotel. Gw pikir dia kecapekan dan masuk angin karena biasanya perutnya terbiasa "nge-giling" makanan. Selepas magrib, langsung berangkat cari makan malam. Kebetulan di samping hotel persis terdapat warung makan makanan chineese food. Sapo tahu kesukaan anak gw paling gede menjadi pilihan utama. Oh iya, warung makan ini ternyata good reviews kalau dilihat di google.


Sekitar jam setengah 12 malam, gw harus buru-buru ke UGD RS Hermina Yogyakarta. Karena si sulung muntah-muntah lagi. Alhamdulillah, ada RS Hermina di Jogja. Karena rekam medik anak gw ada di RS tersebut, sehingga lebih mudah nge-track nya. Syukurnya tidak sampai menginap, oleh dokter diberikan obat pencegah mual dan untuk lambungnya.

RS Hermina Yogyakarta
Mampir ke RS Hermina Yogyakarta
 Hari ke-2 di Jogja dengan menggunakan mobil rental dari Sabila Transport, explore Yogyakarta dimulai. Ini tips dari gw, tentuin lokasi wisata yang mau dikunjungi kemudian kasih ke driver (kalau kalian pakai driver rental), biarkan si pak driver yang menentukan lokasi mana yang harus dikunjungi terlebih dahulu. Biar lebih hemat waktu dan semua destinasi wisata bisa dikunjungi.


Lokasi wisata yang pertama kami kunjungi adalah Rumah Hobbit, dimana lokasinya jadi satu dengan lokasi tempat syutingnya film "keluarga tak kasat mata". Masuk ke lokasi wisata ini 2500 rupiah / orang, anak dibawah 5 tahun gratis.

Model penunjuk arah :)


Dari Rumah Hobit, kami lanjutkan menuju lokasi wisata Jurang Tembelan. Lokasi wisata ini menawarkan view dari pinggir tebing / jurang. View nya juga cakep! dan lokasi wisata ini tidak dipungut biaya masuk hanya parkir mobil saja sebesar 10 ribu rupiah.


Jurang Tembelan Yogyakarta
Panasnya lumayan terik!

Dari Jurang Tembelan, kami bergeser lagi mengarah ke Hutan Pinus, Mangunan. Wah, kalau yang ini adem. Teduh, walaupun gak pakai payung. Disini karcis masuknya adalah 5000 rupiah per orang. Anak di bawah 5 tahun masih gratis.

Hutan Pinus Mangunan Yogyakarta
Mereka tumbuh ke atas tanpa saling sikut kanan kiri

Hutan Pinus Mangunan
Candid ala-ala, Ibu dan Anak perempuannya

Selesai dari Hutan Pinus, Mangunan. Perjalanan dilanjutkan menuju tempat makan, karena sudah masuk waktu makan siang. Khawatir bocah-bocah nanti makin sakit kalau telat makan. Istri gw kepengen menuju Restoran Abhayagiri. Tapi kata si bapak driver, taste-nya biasa saja dan harganya relatif mahal. Karena istri penasaran, mari dilaksanan ke tempat restaurant tersebut. Sepanjang perjalanan menuju restaurant Abhayagiri, ternyata melewat beberapa lokasi wisata Puncak Becici yang dulu katanya sempat disambangi Mr. Obama saat singgah ke Indonesia.


Sepertinya hari itu, bukan jodoh istri gw. Restaurant Abhayagiri saat itu memberlakukan menu buffet bagi mereka yang belum melakukan reservasi. Harga menu buffet nya adalah 250 ribu per orang. OK! kami pun mundur teratur dan putar balik langsung menuju area Prambanan. Sebelumnya mampir di Kali Opak untuk makan siang yang sudah sangat terlambat. Semoga camilan yang diberikan ke dua bocah masih bisa bertahan di dalam perut sampai tiba di Restaurant Kali Opak, Prambanan.


Setelah makan, Candi Prambanan adalah destinasi selanjutnya dengan tiket masuk 55 ribu per orang (total 110 ribu untuk 2 orang dewasa). Suasananya cukup ramai sekali, karena memang bertepatan dengan libur anak sekolah dan akhir tahun. Sayang sekali, tidak sempat menuju Candi Ratu Boko karena sudah terlalu sore.

Candi Prambanan
Candi Prambanan

si sulung yang masih kurang fit!

yang pegang kendali keuangan negara

Selepas dari Candi Prambanan, cuaca makin mendung dan sempat gerimis. Tujuan selanjutnya adalah Tebing Breksi. Sempat akan di-cancel karena cuaca makin gerimis, tapi saat perjalanan gerimis menghilang. Tebing Breksi pun masuk kembali dalam rencana tujuan wisata. Sebelum ke sana, kami mampir dulu ke Candi Ijo. Tidak bisa masuk ke dalam lokasi Candi Ijo, karena sudah tutup. tapi kami masih bisa melihat view yang indah.


Masuk ke Tebing Breksi, sama seperti beberapa lokasi wisata sebelumnya. Nyaris tidak ada tiket masuknya, hanya membayar parkir dengan sukarela. Cukup bayar 10 ribu untuk di lokai Tebing Breksi. Karena sangat ramai dan sudah mau masuk magrib, tidak bisa mengambil spot foto yang bagus. Hanya sebentar saja kami disini, takut kemalaman sampai di Hotel, anak-anak pun sudah sangat lelah.



Hari ke-3 kami di Jogja kemana? tunggu postingan selanjutnya ya.. hehehe


October 5, 2017

Sumba, Keindahan Indonesia yang HQQ

Ceritanya awal bulan September 2017, gw trip bareng kantor setelah berbulan-bulan menabung mengumpulkan receh demi receh demi tercapainya trip ini. Belum ditentukan tuh, tripnya mau kemana, yang sudah ditentukan adalah waktunya. Pas sudah hari H, recehannya terkumpul, baru ditentukan kemana kita akan bersenang-senang.


Tanpa ba bi bu, muncul lah sebuah destinasi yang letaknya di Indonesia Timur. Sumba, NTT.


------- BLAAARR..!! --------


Destinasi yang akan dituju adalah Sumba, NTT. Trip yang adventure dan sudah dipastikan sinyal susah. Bukan apa-apa, bagi gw yang sudah ber badan sixpack perut buncit, membuat gw sadar diri. Gw lebih cocok trip dengan konsep city tour. Ditambah sinyal yang susah dan hanya bisa dijangkau di tempat tertentu dan hanya bisa satu provider, membuat gw susah komunikasi sama keluarga di rumah. Itulah skeptis-nya gw dengan tujuan trip kali ini.


================================= T . A . P . I ==============================


Gw salah besar, Sumba ternyata the best. View yang diberikan sugguh indah, walaupun harus usaha sekuat tenaga. Emang bener sih, usaha tidak akan membohongi hasil..

Pantai Watumalando



Tanjung Mareha

Sunset di Pantai Bawana

Untuk menikmati sunset yang indah itu ada usaha yang harus dijalani. Track yg sangat curam dan bisa dibilang licin, dan kira-kira 45 derajat kemiringannya.

Perjalanan masih jauh ke bawah

Hari kedua, rugi rasanya kalau cuma dihabiskan tidur di kamar hotel (hotelnya pun tak mewah, karena kita bukan pinda tidur, hahaha). Beda hal-nya kalau menginap di Nihiwatu Hotel, ceritanya akan berbeda. Waktunya akan dihabiskan di hotel, haha. Kita menuju sebuah bukit untuk menyambut pagi. Bukit Ledongara.

Kalau sudah, ditutup ya lubangnya


Setelah sarapan di hotel dan chek out, perjalanan lanjut ke sebuah desa yang merupakan tempat tinggal penduduk asli dari Sumba. Tepatnya di Sumba Timur, Kampung Adat Ratenggaro. Kampung ini hanya ada beberapa rumah, mungkin hanya 20 - 25 rumah. Mereka masih menganut paham, banyak anak banyak rezeki. Tapi mereka tidak terlalu primitive mereka sudah mengenal dunia luar dan kehidupan luar, walaupun masih sangat terbatas.

Fotografer difoto :D
chit chat with local residents

Rumat adat sedang direnovasi

kampung adat Ratenggaro dari sisi belakang

Di belakang Kampung Adat Ratenggaro ini terdapat pantai yang sangat indah dan sangat bersih. Pasirnya juga lembut. Dalam hal pemakaman, penduduk asli masih memegang tradisi atau kepercayaan leluhur mereka. Kepercayaan megalitik merupakan warisan yang sangat berharga bagi masyarakat Sumba. Jenazah dikubur dalam batu kubur, berbentuk kubus. Di Kampung Adat Ratenggaro, masih dijumpai batu kubur yang asalnya dari potongan batu yang disusun dibentuk kubus. Seiring dengan berjalannya waktu, batu kubur dari batu potong sudah mulai diganti dengan batu beton. Untuk membuat batu kubur, butuh biaya yang mahal dan perencanaan yang matang.

Setelah dari Kampung Adat Ratenggaro, perjalanan selanjutnya menuju Danau Weekuri. Danau ini berisi air payau dan seger banget buat berendam (buat yang bisa berenang) haha.

Danau Weekuri

bisa mengambang dengan bantuan, haha!!

panasnya terik!

Bang, jangan dipant*atin dong, silau!

Gak jauh dari Danau Weekuri, mungkin sekitar 15 menit perjalanan sampai di tujuan selanjutnya. Pantai Mandorak. Kabarnya, kawasan Pantai Mandorak terdapat villa yang dimiliki oleh seorang berkewarganegaraan Perancis.

Pantai Mandorak
anak gaul baru Jakarta, berpose di pantai

meratapi kejombloan

Yakin gak mau ada yang nemenin disampingnya?

Dan destinasi terakhir adalah Bukit Persaudaran. Lokasi ini tidak ada dalam itinerary yang seharusnya adalah Pantai Walakiri. Setelah berdebat, diskusi alot, selama 7 hari 7 malam. Maka diputuskan untuk tidak ke Pantai Walakiri. Kita-kita sudah terlalu jatuh cinta dengan keindahan pantainya. Takut makin jatuh cinta. Bukit Persaudaraan adalah penggantinya.

bagus kan modelnya, eh! background-nya

Fokusnya ke background-nya saja ya, jangan ke modelnya

c'mon..! hup hup jump..!
Trip ditutup di bukit ini. Bukit Persaudaraan. Semoga dengan semangat persaudaraan, bisa kembali lagi menyambangi Sumba, explore Sumba lagi, menikmati keindahan Sumba yang lainnya.



 Menikmati senja. Jangan nyalakan lampu sebelum senja selesai bertugas. Biarkan gelap datang untuk mengabarkan kepada senja. Tugasnya telah selesai.


nyunggi srengenge

NB: Oh iya..! buat yang mau liburan ke Sumba, lengkap dengan segala paket wisata. Silahkan kunjungi www.exploresumba.com

July 8, 2013

Vacation Rush

Untuk kedua kalinya gw dateng ke negara gajah putih. Masih dalam bentuk gratisan dari kantor, tapi ini bedanya di personil. Kalau yang pertama ke Bangkok hanya bagian divisi gw aja, sekarang satu perusahaan. Rame dan tumpek blek dah pokoknya! yang lebih gila lagi berangkat Jumat siang pulang Minggu siang. Rombongan dibagi dua, gw kebagian rombongan kedua. Rombongan pertama berangkat subuh. Gw rasa mau bersihin airport di Bangkok dulu buat menyambut kedatangan rombongan kedua, hahaha. Kunjungan ke Bangkok kali ini, gw membawa misi terselubung. Misi gw adalah nyari kerjaan nyari toko yang jual jersey bola. Kunjungan pertama waktu itu gagal total, gw telat nanya ke guide-nya.

Jakarta-Bangkok ditempuh kurang lebih 3 jam. Lagi ngantuk-ngantuknya di pesawat dan sempet tertidur, tiba-tiba mbak-mbak pramugarinya dateng nawarin makanan. Ngantuknya bablas. Selesai makan, bukannya ngantuk malah makin seger. Mendarat di Suvarnabhumi masih 2 jam lagi, ngapain? milih-milih film di pesawat kali aja bisa ngantuk dan tidur. Eh, yang ada malah makin gak bisa tidur. Keasyikan nonton filmnya. Satu lagi, gw sering naik pesawat tapi belum pernah nyobain pipis di toilet pesawat, hehe.

rombongan kedua 86, Jenderal..!


Mendarat di Bangkok rute selanjutnya langsung makan malam dan bertemu dengan rombongan pertama. Lebih tepatnya laporan ke big boss kalau rombongan kedua telah sampai dengan selamat. Selesai makan, perut kenyang saatnya belanja belinji di Asiatique Market. Disni cuma dapet satu tas, simple dan keren. Sayang cuma beli satu, lupa seharusnya beli dua. Demi adek gw, itu tas gw jadiin oleh2 aja buat adek gw. Dari lokasi ini langsung menuju hotel, check-in. Gw gak akan ngebahas gimana akomodasinya ke tempat-tempat yang gw kunjungin, karena percuma juga. Gw kagak pake trasnportasi umum di  Bangkok..:p

Hari kedua di Bangkok adalah menuju istana raja, alias Grand Palace. Raja nya sih gak tinggal disini, semacam wisata kraton yang ada di Yogyakarta. Aturannya juga mirip-mirip seperti di kraton Yogyakarta. Harus berpakaian sopan, gak boleh pakai rok/celana pendek. Ada spot-spot dimana wisatawan gak boleh memotret. Karena Grand Palace ini merupakan heritage dan warisan Kerajaan Thailand. Jadi takut ada yang meniru atau menjiplak.

Formasi penuh..!

Setelah session foto group di atas selesai, saatnya berkeliaran foto-foto di dalam kompleks Grand Palace. Saatnya menunjukkan kemampuan dalam photography kenarsisan, hehe.

jemur gigi

mantengin sinar matahari

boleh kaa..! refleksi kaki dulu

Dari sekian spot yang gw ambil dan gak semuanya gw masukin ke blog, ada satu spot yang gw merasa dejavu dengan tempat wisata di Indonesia. Tempat wisata di daerah Semarang dan Jakarta.

Lawang Sewu apa Kota Tua nih??!

Selepas muter-muter di dalam Grand Palace, tujuan selanjutnya adalah menuju Wat Arun. Sebuah candi yang kalau kita naik ke puncaknya, seluruh kota Bangkok kelihatan. Untuk menuju kesana kudu naik perahu motor nyebrang sungai praya atau biasa dikenal dengan sebutan Chao Praya. Di Wat Arun bukan ingin lihat candinya, tapi di pinggiran komplek candinya ada tempat berbelanja souvenir dan kaos-kaos Thailand yang harganya tawar-able dan bisa transaksi menggunakan rupiah. Bahasa Indonesianya juga fasih bener.



Menuju tempat penyeberangan ke Wat Arun dari Grand Palace, gw dejavu lagi nih. Berasa di kota pendidikan Ngayogyakarta. Gak percaya?? Niih..!

Malioboro nang ndhi ya arahe?
iki mesti benteng kidhul

Tuh kan! mirip kayak di Yogyakarta tho..? hehe. Hari ketiga, gw pakai muter-muter nyari jersey di Bangkok. Secara Bangkok terkenal dengan jersey ber-KW-nya. Jam 10 pagi udah nongkrong depan tokonya, tapi belum buka juga. Muter-muter ke toko lain belum ada yang buka, hampir putus asa. Ketemu sama orang Thailand yang lagi pake jersey MU, gw tanya aja langsung dia beli di toko mana? Alhamdulillah, dikasih petunjuk.. langsung ke TKP dan memborong 3 jersey, dan semuanya titipan. wakakaka..

*selesai*