Pernah merasa kecewa karena sudah berbuat baik ke orang lain, tapi malah dibalasnya tidak sesuai dengan ekpektasi? Itu artinya, kebaikan yang lo perbuat atau yang kebaikan yang lo berikan tidak tulus. Kebaikan yang pamrih, berharap timbal balik. Sebenarnya itu adalah hal yang wajar, manusiawi. Berbuat kebaikan ke orang lain dan berharap dapat kebaikan juga ketika kita membutuhkan.
Ada satu kalimat yang pasti berseliweran dan kalian pernah melihatnya, "Perlalukan orang lain, sebagaimana kita ingin diperlakukan". Tidak ada yang salah dengan kalimat tersebut, tetapi bagaimana kita menyikapi dan memaknai kalimat tersebut dari berbagai sisi.
Misal si A memperlakukan si B dengan baik dan ternyata si A berharap dia diperlakukan baik juga oleh si B. Tapi kenyataannya, perlakuan si B tidak sesuai ekspektasi dari si A, sedangkan menurut si B perlakuan yang dia sudah berikan, menurutnya sudah baik.
Kondisi yang lain mungkin, seperti si A dan si B pernah bekerja sama di kantor yang sama, kemudian keduanya berpisah bekerja di kantor baru mereka masing-masing. Suatu hari si A menanyakan kepada si B apakah ada lowongan pekerjaan (loker) di kantornya? Kemudian si B memberikan info loker ke si A. Singkat cerita, si A melakukan interview di kantor si B. Dalam pikiran dan hati si A, teman dia yaitu si B yang dulu pernah bekerja bareng di kantor yang sama, berharap bisa memberikan rekomendasi supaya dirinya bisa diterima bekerja dan bisa kerja bareng lagi dengan si B. Tapi faktanya, si B tidak memberikan rekomendasi, si B hanya memberikan info loker saja.
Dari 2 kondisi kejadian di atas, jangan sampai merubah kebiasaan kita untuk tetap berbuat baik kepada sesama manusia. Walaupun perbuatan baik terhadap sesama manusia itu cenderung sifatnya transaksional, berharap imbalan. Tapi kadang kita lupa, perbuatan baik yang kita lakukan bukanlah kegiatan transaksional antara sesama manusia. Tapi kegiatan transaksional kita sebagai manusia dengan Allah subhanahuwataala
Berbuat baiklah dengan tulus dan ikhlas ke sesama manusia, imbal baliknya biar Allah subhanahuwataala yang mengatur. Mungkin imbal baliknya bisa langsung atau nanti ketika kita membutuhkan.
Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga dan kematian mendatanginya dalam kondisi dia beriman kepada Allah Ta’ala dan hari akhir, maka hendaklah dia bersikap kepada orang lain dengan sikap yang ingin dia dapatkan dari orang lain.”
(HR. Muslim no. 8442)

No comments:
Post a Comment