October 5, 2017

Sumba, Keindahan Indonesia yang HQQ

Ceritanya awal bulan September 2017, gw trip bareng kantor setelah berbulan-bulan menabung mengumpulkan receh demi receh demi tercapainya trip ini. Belum ditentukan tuh, tripnya mau kemana, yang sudah ditentukan adalah waktunya. Pas sudah hari H, recehannya terkumpul, baru ditentukan kemana kita akan bersenang-senang.


Tanpa ba bi bu, muncul lah sebuah destinasi yang letaknya di Indonesia Timur. Sumba, NTT.


------- BLAAARR..!! --------


Destinasi yang akan dituju adalah Sumba, NTT. Trip yang adventure dan sudah dipastikan sinyal susah. Bukan apa-apa, bagi gw yang sudah ber badan sixpack perut buncit, membuat gw sadar diri. Gw lebih cocok trip dengan konsep city tour. Ditambah sinyal yang susah dan hanya bisa dijangkau di tempat tertentu dan hanya bisa satu provider, membuat gw susah komunikasi sama keluarga di rumah. Itulah skeptis-nya gw dengan tujuan trip kali ini.


================================= T . A . P . I ==============================


Gw salah besar, Sumba ternyata the best. View yang diberikan sugguh indah, walaupun harus usaha sekuat tenaga. Emang bener sih, usaha tidak akan membohongi hasil..

Pantai Watumalando



Tanjung Mareha

Sunset di Pantai Bawana

Untuk menikmati sunset yang indah itu ada usaha yang harus dijalani. Track yg sangat curam dan bisa dibilang licin, dan kira-kira 45 derajat kemiringannya.

Perjalanan masih jauh ke bawah

Hari kedua, rugi rasanya kalau cuma dihabiskan tidur di kamar hotel (hotelnya pun tak mewah, karena kita bukan pinda tidur, hahaha). Menuju sebuah bukit untuk menyambut pagi. Bukit Ledongara.

Kalau sudah, ditutup ya lubangnya


Setelah sarapan di hotel dan chek out, perjalanan lanjut ke sebuah desa yang merupakan tempat tinggal penduduk asli dari Sumba. Tepatnya di Sumba Timur, Kampung Adat Ratenggaro. Kampung ini hanya ada beberapa rumah, mungkin hanya 20 - 25 rumah. Mereka masih menganut paham, banyak anak banyak rezeki. Tapi mereka tidak terlalu primitive mereka sudah mengenal dunia luar dan kehidupan luar, walaupun masih sangat terbatas.

Fotografer difoto :D
chit chat with local residents

Rumat adat sedang direnovasi

kampung adat Ratenggaro dari sisi belakang

Di belakang Kampung Adat Ratenggaro ini terdapat pantai yang sangat indah dan sangat bersih. Pasirnya juga lembut. Dalam hal pemakaman, penduduk asli masih memegang tradisi atau kepercayaan leluhur mereka. Kepercayaan megalitik merupakan warisan yang sangat berharga bagi masyarakat Sumba. Jenazah dikubur dalam batu kubur, berbentuk kubus. Di Kampung Adat Ratenggaro, masih dijumpai batu kubur yang asalnya dari potongan batu yang disusun dibentuk kubus. Seiring dengan berjalannya waktu, batu kubur dari batu potong sudah mulai diganti dengan batu beton. Untuk membuat batu kubur, butuh biaya yang mahal dan perencanaan yang matang.

Setelah dari Kampung Adat Ratenggaro, perjalanan selanjutnya menuju Danau Weekuri. Danau ini berisi air payau dan seger banget buat berendam (buat yang bisa berenang) haha.

Danau Weekuri

bisa mengambang dengan bantuan, haha!!

panasnya terik!

Bang, jangan dipant*atin dong, silau!

Gak jauh dari Danau Weekuri, mungkin sekitar 15 menit perjalanan sampai di tujuan selanjutnya. Pantai Mandorak. Kabarnya, kawasan Pantai Mandorak terdapat villa yang dimiliki oleh seorang berkewarganegaraan Perancis.

Pantai Mandorak
anak gaul baru Jakarta, berpose di pantai

meratapi kejombloan

Yakin gak mau ada yang nemenin disampingnya?

Dan destinasi terakhir adalah Bukit Persaudaran. Lokasi ini tidak ada dalam itinerary yang seharusnya adalah Pantai Walakiri. Setelah berdebat, diskusi alot, selama 7 hari 7 malam. Maka diputuskan untuk tidak ke Pantai Walakiri. Kita-kita sudah terlalu jatuh cinta dengan keindahan pantainya. Takut makin jatuh cinta. Bukit Persaudaraan adalah penggantinya.

bagus kan modelnya, eh! background-nya

Fokusnya ke background-nya saja ya, jangan ke modelnya

c'mon..! hup hup jump..!
Trip ditutup di bukit ini. Bukit Persaudaraan. Semoga dengan semangat persaudaraan, bisa kembali lagi menyambangi Sumba, explore Sumba lagi, menikmati keindahan Sumba yang lainnya.



 Menikmati senja. Jangan nyalakan lampu sebelum senja selesai bertugas. Biarkan gelap datang untuk mengabarkan kepada senja. Tugasnya telah selesai.


nyunggi srengenge


August 25, 2017

Selat Solo.., oh Selat Solo..

Membuat karya itu, tidak mudah. Berkarya itu sulit. Sekarang orang-orang lebih suka menyebarkan sesuatu yang tidak benar isinya daripada membuat karya yang bisa dipertanggungjawabkan. Situ sehat?


Kenapa gw bilang, berkarya itu sulit. Karena lo harus ngumpulin niat, setelah niat lo kumpul, lo harus dapat momen. Nah, terkadang niat sudah ada, sudah kumpul.., momen-nya yang gak ada. Giliran momen yang sudah dapat, ide nya sudah muncul, niat buat nulisnya yang nguap. Gitu aja terus-terusan sampai Firaun mainan Instagram sambil foto di dalam peti matinya.


Jaman sekarang lagi populer orang-orang buat vlog. Lagi ngapain aja di-dokumnetasikan dengan video. Gw pernah nyobain beberapa kali buat video dan meng-upload-nya ke channel youtube gw. Lo bisa lihat di pojok sebelah kanan. Karena passion gw cuma nulis di blog, tapi gw penasaran buat video yang ciamik. Tapi gw gak jago. hahaha, bingung kan?!


Seperti lebaran tahun ini, tadinya gw berpikir ini momen yang untuk gw buat vlog. Di otak gw uah kebayang, nanti skenarionya seperti ini, terus scene yang bakal gw rekam pas di sini, sana, sini, dan bla..bla..! Kemudian gw edit, terus tambahin sedikit backsound dan taa..daa..! semua hanya angan belaka. Harapan tinggal harapan, vlog pun tak jadi.


Yo wes! ngeblog lagi aja..!


Lebaran kemarin, sama seperti lebaran tahun-tahun sebelumnya. Gak afdhol kalau gak jalan-jalan di kampung halaman. Berhubung rombongan banyak, harus sewa kendaraan. Perjalanan dimulai menuju Telaga Sarangan. Fyi aja, baru lebaran tahun ini aja gw main ke Telaga Sarangan. Sebelum-sebelumnya gak pernah sama sekali, karena kebayang ramai dan macetnya menuju lokasi. Selepas dari Telaga Sarangan, kita menuju ke Mojosemi Forest Park. Ini salah satu tempat yang lagi nge-trend di Magetan. Buat yang gak tahu Magetan. Magetan salah satu kota di kaki Gunung Lawu. Buat yang pernah ke Puncak, Bogor. Nah, Magetan ini mirip-mirip gitulah.. tapi masih lebih adem dan asri. hahaha..

Telaga Sarangan

Menuju Sarangan

Mojosemi Forest Park (di depan pintu masuk)


Setelah dari Mojosemi lagsung lanjut ke Solo. Ini tujuan utamanya. mampir bentar ke rumah eyang kakung Kasultanan Surakarta. Belajar sejarah dan lihat-lihat peninggalan kerajaan Kesultanan Surakarta yang masih abadi sampai saat ini.

Salah satu sudut di Kasultanan Surakarta


Niat hati mau wisata kuliner, tapi yang ada malah semua tempat makan penuh. Maunya nyobain makanan yang namanya selat solo mbak lis yang seantero jagad raya. Sampai di lokasi malah amsyong. Nyobain selat solo nya jangan pas lebaran nih sepertinya. hahaha

Selat Solo, Mbak Lies

 Nih penampakan antrian di tempat makan nya. Setelah menunggu satu jam lebih, orderan gw masih masuk urutan ke 9. Lapar udah gak ketahan,gw pindah ke nasi liwet saja.