Showing posts with label kompetiblog2012. Show all posts
Showing posts with label kompetiblog2012. Show all posts

April 25, 2012

Belanda, memeluk dunia dengan bahasa

Peribahasa "tuntutlah ilmu sampai negeri China" harus dirubah menjadi "tuntutlah ilmu sampai negeri Belanda dan mampirlah ke China".

Bahasa Inggris yang menjadi bahasa internasional, membuat Belanda menciptakan sesuatu yang bisa dibilang inovasi dalam dunia pendidikan. Belanda menawarkan 1000 lebih program pendidikan bertaraf internasional, membuat Belanda menjadi salah satu negara tujuan utama untuk menimba ilmu. Selain itu, Belanda menjadi negara dengan multi bahasa karena banyaknya pelajar dari berbagai negara yang datang ke Belanda. Walaupun dalam kesehariannya menggunakan Bahasa Inggris, tak dapat dipungkiri penggunaan bahasa non-inggris juga akan digunakan. Selain itu, para pelajar yang tadinya mengarahkan tujuannya untuk menempuh pendidikan di negara dengan bahasa pengantar non-inggris, seketika merubah haluan menuju negara kincir angin untuk menempuh pendidikannya


Itu artinya, Belanda sudah berhasil meraup banyak keuntungan. Pertama, akan banyak lahir para ilmuwan dan cendekia hasil dari pendidikan di Belanda. Kedua, Belanda secara tidak langsung telah memeluk dunia, karena banyaknya orang non-Belanda yang datang. Hampir seluruh pelajar dari berbagai negara menyambangi Belanda untuk belajar yang secara tak langsung akan terjadi pertukaran dan asimilasi budaya dari berbagai negara yang dibawa oleh para pelajar. Sehingga kehidupan di Belanda menjadi lebih majemuk.


Kalau dibandingkan dengan Indonesia, Belanda tidak jauh berbeda. Sama-sama memiliki kehidupan bermasyarakat yang majemuk dengan beraneka ragam masyarakatnya. Bedanya, Indonesia dengan adat istiadat dan suku yang beraneka ragam sedangkan Belanda dengan warganya yang beraneka ragam yang datang dari berbagai negara untuk menempuh pendidikan.


Bagaimana dengan negara yang bahasa pengantarnya bukan Bahasa Inggris? Ada seseorang yang pernah berkata sama saya, "pelajari dan belajarlah menguasai bahasa suatu negara, maka Tuhan akan membawa mu ke negara tersebut". Kita sebagai bangsa Indonesia yang sudah menerima pendidikan Bahasa Inggris dari SD sampai kuliah, bahkan kursus Bahasa Inggris bertebaran dimana-mana seharusnya sudah pandai untuk berbahasa Inggris. Apalagi ditambah dengan kemudahan yang diberikan Belanda yang menggunakan bahasa pengantar Bahasa Inggris jika ada yang ingin menuntut ilmu di Belanda.


Bagaimana untuk kehidupan sehari-hari? Untuk kehidupan sehari-hari sudah pasti Bahasa Inggris juga digunakan. Walaupun mereka memiliki bahasa nasional tersendiri, tapi hampir di setiap pojokan manapun mereka masih mau berbahasa Inggris. Sehingga kita tidak perlu takut ataupun ragu untuk berjalan dan bahkan berbelanja[1].


Belanda yang terletak diantara dua negara besar Jerman dan Perancis. Bukan rahasia umum lagi, kedua bangsa ini susah bahkan tidak mau menggunakan bahasa Inggris. Belanda yang perekonomiannya mengandalkan dari perdagangan, mau tidak mau harus mempelajarai bahasa mereka. Orang Perancis sangat terkenal tidak mau dan enggan untuk berbahasa Inggris[2]. Hal yang sama juga terjadi di Jerman. Walaupun ada kelas internasional yang ditawarkan dalam pendidikan, akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari orang-orang Jerman enggan untuk berbahasa Inggris. Bahasa Jerman mutlak diperlukan karena komunikasi sehari-hari bisa dikatakan 100% menggunakan Bahasa Jerman[3].


Dengan bahasa pengantar Bahasa Inggris, Belanda didatangi oleh berbagai orang terutama para pelajar dari berbagai negara hampir dari seluruh penjuru dunia untuk menempuh pendidikan. Karena Bahasa Inggris yang telah menjadi bahasa internasional, sehingga mutlak harus dikuasai. Inovasi untuk menjadikan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dan bahasa sehari-hari, telah menjadikan Belanda sebagai bangsa yang mendunia dalam bidang pendidikan. Warga Belanda sepertinya menerima dan menikmati inovasi ini sebagai keanekaragaman yang menjadi ciri khas dari negaranya.

April 16, 2012

liarnya pendidikan Belanda

Mengutip salah satu slogan yang ada di Pondok Madani, atau biasa dikenal dengan sebutan Pondok Modern Gontor "ke Madani, apa yang kau cari?". Sepertinya tepat juga ditujukan kepada orang-orang yang ingin melanjutkan sekolah di Belanda. Yaps betul..! "ke Belanda, apa yang kau cari?"


Statement itu tepat untuk menggambarkan orang-orang non Belanda yang ingin menempuh studi di negeri kincir angin. Orang belanda penuh dengan inovasi dan banyak menciptakan ilmuwan dunia. Tidak heran, negara yang secara geografis di bawah permukaan laut ini mampu membendung lautan untuk dijadikan daratan yang indah seperti sekarang. Sejak awal, pendidikan di Belanda memacu kreatifitas pelajar yang nantinya akan menjadi pelajar yang kreatif, punya daya saing, kritis, dan mandiri.

Dengan 1000 lebih program pendidikan internasional yang ditawarkan di Belanda, membuka kesempatan bagi pelajar dari seluruh negara untuk datang dan belajar di negeri kanal ini. Hal inilah yang membuat para pelajar dituntut untuk bisa berinovasi dan berkreasi dalam belajar. Kalau di Indonesia mungkin lebih dikenal dengan CBSA, Cara Belajar Siswa Aktif. Di Belanda sistem ini sangat diterapkan bahkan sampai tingkat perguruan tinggi. Ruang kelas dalam dunia pendidikan di Belanda hanyalah sebagai tempat berdiskusi, bukan sebagai tempat menambah stok pengetahuan baru. Jadi, pelajar dituntut untuk mandiri dan terus berinovasi dan improvisasi mengenai materi yang akan dibahas pada pertemuan selanjutnya. Di Indonesia sebenarnya sudah diterapkan sistem CBSA, akan tetapi penerapan dan aplikasinya kurang maksimal. Sehingga berubah menjadi Catat Buku Sampai hAbis (CBSA).


Menurut gw, pendidikan di Belanda adalah liar. Ya, liar bahkan sangat liar. Siapa saja yang menempuh pendidikan di Belanda, dibebaskan untuk berinovasi dan berkreasi dengan apa yang ada di dalam pikiran mereka. Yang tak punya inovasi bagaimana? Ya siap-siap jadi penonton dan penikmat dari inovasi yang telah diciptakan. Tanpa inovasi dan kreasi, mana mungkin Belanda semaju sekarang ini.


Sebut saja Jalila Essaidi, ilmuwan asal Belanda. Karena inovasinya yang "liar", dia telah menciptakan kulit anti peluru. Kulit anti peluru ini terbuat dengan memanen protein sutra laba-laba dari susu kambing rekayasa genetika. Protein dikumpulkan dan ditenun sehingga menghasilkan material sekuat baja. Kemudian digabungkan dengan sel kulit manusia dengan cara dikulturkan[1]. Dengan angan-angannya yang gila, Jalila berhasil menciptakan kulit anti peluru. Walaupun belum mampu menahan peluru dengan kaliber besar dan kecepatan tinggi.

Selain itu, Ilmuwan Nano Leo Kouwenhoven telah berhasil menimbulkan kegemparan di kalangan ilmuwan pada bulan Februari lalu, saat mempresentasikan hasil temuan awal pada sebuah kongres ilmiah. Pada tanggal 12 April, para ilmuwan akan mempublikasikan penelitian mereka ke dunia ilmu pengetahuan. Penelitian ini dibiayai oleh FOM Foundation dan Microsoft[2].


Dalam daftar Top 50 Life Sciences Universities dari Times Higher Education, Wageningen University and Research Centre serta Utrecht University menempati peringkat ke-17 dan ke-30. Saat ini, Wageningen University and Research Centre memiliki reputasi yang sangat baik terutama untuk program-program studi seperti pertanian, teknologi pangan, bioteknologi, peternakan dan perikanan. Sementara Utrecht University menawarkan program-program studi mutakhir seperti Astrofisika, Biomolekular, Fisika Eksperimental dan Hidrologi[3].

Dalam dunia pendidikan, Belanda merupakan negara pertama di Benua Eropa yang menawarkan program-program belajar yang diajarkan dalam bahasa Inggris. Para mahasiswanya pun didorong untuk meciptakan ide–ide kreatif dan inovatif sehingga menjadi pelopor dan motor penggerak dalam kehidupan.




Nama Dagangan

adventure (13) AWARD (8) Ayo Indonesia Bisa (1) curcol (5) family (2) fiksi (2) GiveAway (2) HK (2) horor (1) humor (7) info (6) kompetiblog2012 (2) lomba (1) my mind (7) My Money (24) opini (22) Panasonic Gobel Indonesia (1) pengalaman pribadi (4) pure it (1) randezvous (1) SEA GAMES Palembang (1) SEO (1) share (82) Singapore (3) umum (18) water purifier (1)