Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

December 12, 2011

tak sempat melihat

Jum'at pagi, seperti hari-hari sebelumnya. Masih di tempat yang sama, masih dengan kostum yang sama, dan tentunya masih dengan kondisi yang sama. Vanya memandangi sang suami Gandhi yang terbaring tak berdaya di ruang ICU dengan selang yang menancap di mulutnya. Entah itu selang apa, yg ada di benak Vanya hanyalah melihat suami tercinta membuka mata dan mengecup keningnya dipagi hari seperti yang biasa dilakukannya suatu hari nanti.

"Kamu istirahat dulu ya Nak, dari semalam kamu belum istirahat. Makan pun kamu sedikit" tegur seorang ibu paruh baya yang menepuk pundak Vanya dengan kulit keriput di tangannya. Ibu Mertua Vanya sangat menyayanginya, seperti dia menyayangi anaknya, Gandhi. Vanya hanya menoleh memandangi ibu mertuanya sambil mengangguk dan mengusap air mata yang membasahi kedua pipinya.

Sambil dirangkul oleh sang ibu mertua, Vanya beranjak dari tempat dia berdiri memperhatikan sang suami tercinta terbaring. Vanya pun makan tanpa semangat dan nafsu sama sekali. Dia hanya tak ingin melihat ibu mertuanya bersedih melihat dirinya tidak makan. Pasti ibu mertuanya lebih sedih lagi perasaannya. Anak yang dikandungnya selama 9 bulan dan dibesarkannya dengan susah payah,kini terbaring koma di ICU.

----

Mentari pagi sudah beranjak. Vanya dan Gandhi bersiap siap menuju bandara. Kali ini mereka akan berbulan madu ke Gili Trawangan. Sebuah pulau nan eksotis di daerah Nusa Tenggara Barat. Pulau yang dimana, tidak ada kendaraan bermotor. Transportasi hanya menggunakan sepeda atau cidomo, kalau di jawa disebutnya andong atau dokar.

Ah sayang, kau membangunkan tidur ku selalu dengan kecupan mesra, gumam Vanya ketika Gandhi membangunkan tidurnya dikala mentari pagi mengintip dari balik jendela kamar hotel tempat mereka menginap.

"Bangun sayang, lihat tuh matahari udah ngintipin kamu dari tadi" canda Gandhi.

Vanya dan Gandhy baru saja menikah. Baru beberapa bulan yang lalu. Jadi, kenikmatan hidup menjadi pasangan suami istri baru saja dinikmati dan masih hangat sekali. Mereka berdua selalu tempak mesra dimanapun berada. Wajar, namanya juga pengantin baru. Tak jarang, mereka sempat  atau bahkan jadi pusat perhatian banyak orang ketika sedang berjalan di tempat umum dan mereka asik berpeluk mesra. Bukannya malah risih, mereka malah menganggap itu sebagai salah satu keisengan mereka.

"Yank, sini..! lihat deh, pemandangan di sini bagus banget" teriak Vanya dari kejauhan memanggil Gandhi yang masih berdiri berteduh di bawah pohon kelapa. Gandhi berlari-lari kecil menghampiri istri tercinta.

"Wah, bener katamu Yank! Pemandangannya bagus banget"

"Tuh kan, bener apa kataku. Pemandangan di Gili Trawangan itu semuanya bagus. Apalagi klo kita coba snorkling. Pemandangan alam bawah lautnya lebih mempesona"

"Ah, seindah apapun pemandangan Gili Trawangan. Tetap tak mampu mengalihkan pandangan ku dari wajahmu, istriku.." Gandhi mengeluarkan rayuan gombal kepada Vanya. Vanya pun mencubit perut Gandhi, kemudian lari. Mereka saling kejar kejaran di pinggir pantai sambil bermandi cahaya matahari sore.

----

Vanya terbangun, ketika pipinya disentuh oleh hawa yang dingin sekali. Ketika membuka mata, ternyata ibunya membangunkan dia dari tidur. Membuyarkan semua mimpi yang sebagian besar pernah dialami bersama Gandhi sang suami. "Nak, solat tahajud dulu yuk. Berdoa dan minta kepada Allah, agar suami mu cepat diberi kesadaran dan kesembuhan"

Vanya melihat jam dinding yang menempel di ruang tunggu, menunjukkan pukul setengah 3 pagi. Sambil mengusap ngusap mata, Vanya beranjak menuju musholla.


Ya Allah, aku tahu Engkau tidak akan memberikan cobaan kepada umat Mu, jika dia tak mampu menanggungnya. Aku meminta kepada Mu ya Allah, berikanlah jalan terbaik buat suami hamba, Vanya berdoa sambil meneteskan air mata. Bahkan di sujud terakhirnya dalam solat tahajud dia panjangkan. Doa dan permintaan kepada sang Maha Kuasa dilantunkan agar sang suami bisa kembali sembuh sedia kala.

Pagi hari Vanya terbangun. Sebuah gerakan di telapak tangannya membangunkan dia dari tidurnya. Antara percaya dan tidak percaya, jemari tangan Gandhi suaminya mulai bergerak. Vanya pun keluar memanggil Dokter untuk memeriksa kondisi suaminya. Dokter tersenyum dan mengatakan "ini keajaiban, walaupun belum sempurna. tapi suami anda telah menunjukkan kemajuan yang sangat pesat sekali. Untuk sementara waktu, suami anda masih harus berada di ICU sampai keadaanya stabil"

Saat itu juga, Vanya dan beberapa keluarga yang ikut menemani di RS bersujud syukur. Seluruh keluarga diberitahu tentang kabar baik ini. Gandhi telah sadar walaupun belum sempurna. Dokter berpesan, kalau kondisi Gandhi masih belum stabil. Dia bisa saja anfal sewaktu-waktu.

---

Senin pagi, Vanya mencoba mengajak ngobrol sang suami. Dia berharap dengan mengajaknya berbicara, Gandhi lebih cepat menuju keadaan yang stabil. Vanya terus berbicara, mengenang masa masa bulan madu mereka. Gandhi hanya memberikan respon dengan gerakan tangan, sesekali di raut wajahnya tersungging sedikit senyum yang telah dinantikan Vanya selama Gandhi terbaring koma.

"Sayang, kamu harus cepat sembuh ya... karena aku punya kabar baik untuk kita. Aku mengandung. Kita akan punya anak.." Vanya bercerita sambil tersenyum dengan mata yang berkaca kaca.

Tiba-tiba tangan Gandi menggenggam erat tangan Vanya, mata Gandhi terbuka dan tersenyum ke arah Vanya. Genggamannya melemah, dari ekor mata Gandhi mengalir air mata dan kemudian mata itu pun tertutup. Monitor di alat pendeteksi detak jantung berubah menjadi garis lurus dengan bunyi yang continue, "TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIITT.." Vanya panik, dan memanggil dokter. Selama dokter memeriksa Gandhi, Vanya lemas menunggu di luar ruangan sambil sesenggukan menahan tangis yang terus menderanya.

Dokter keluar ruangan sambil menggeleng dan menepuk pundak Vanya, "maaf, suami anda sudah kembali kepada-Nya dengan wajah tersenyum. Kami sudah berjuang"

Seketika itu, pecahlah tangis dan teriakan Vanya. Merasa dia hanya bermimpi, Vanya terus berteriak-teriak menyangkal kalau suami tercintanya Gandhi Arya Hutomo telah meninggal. Ya, Gandhi telah meninggal, tak sempat melihat anaknya lahir dan tak sempat dipanggil "papa" oleh sang anak. Panggilan yang sangat didambakan oleh setiap kaum Adam ketika telah berkeluarga.

November 17, 2011

Hard Work

Cangkir kopi sisa semalam masih tergeletak di atas meja. Ampas kopi juga terlihat mengitari bibir cangkir. Beberapa puntung rokok juga terlihat memenuhi asbak yang berbentuk telapak tangan orang dewasa.

Jancuk!! gaweanku dhurung mari mari. Ne' koyo ngene kapan iso leren awak ku (dengan logat Surabaya yang kental sekali).

Entah sudah berapa banyak kertas yang dihabiskan untuk menggambar konstruksi rumah dengan tiga lantai. Maklum, pemesan gambar adalah seorang terpandang dan memegang jabatan penting disalah satu daerah kawasan Surabaya. Jadi  bisa dipastikan pundi pundi kekayaan sang juragan sangat banyak. Tresno sudah bolak balik menyerahkan beberapa gambar rancangan rumah yang dibuatnya. Dan untuk kesekian kali itu pula selalu ada revisi dari si juragan.

Sudah tak terhitung, berapa banyak lembar kertas kalkir yang digunakan untuk membuat rancangan gambar rumah yang dipesan yang pada akhirnya ditolak.

Bapak iku karepe piye seh? Rugi akeh aku. Kertas gambar wes akeh sing diguwa', gambar ndak ono sing disetujui. Njaluk iku lah, jendelone mesti ngono lah, ngene lah.. Ah, asu..!! jancuk..!! Tresno mulai misuh misuh tidak jelas.

Poko'e, iki gambar terakhir sing direvisi. Nek iseh neko neko, moh aku nggarap meneh. karepmu lah pak. Palingan omah mu ndak dadi.

Tepat jam 9 pagi dengan menggunakan angkot, Tresno meluncur ke rumah si Bapak. Sesuai rencana, Tresno telah membuat janji dengan sekretarisnya kalau dia akan bertemu dengan si Bapak jam 10. Satu setengah jam menunggu, tanpa sarapan hanya rokok sisa semalam yang dihisap Tresno. Membuat perut Tresno bunyi tidak karuan. 

Dhurung sarapan, saiki ngenteni suwi. Nganti ndak di acc, aku mutung. Untuk kesekian kalinya, Tresno membatin hal terburuk yang bisa saja terjadi terhadap kerjaanya.

Setelah sekian lama menunggu si Bapak muncul dari balik pintu dengan raut wajah yang tidak seperti biasanya. Sebelumnya ketika bertemu dengan Tresno, si Bapak selalu dengan raut wajah yang penuh amarah dan siap mencerca hasil kerjaan Tresno.

"Ayo le, mlebu mrene le..! Arepe ngombe opo? kopi opo teh?" Ajak si Bapak yang kental dengan logat Surabaya bercampur Madura.

"Gimana, gambar rumah saya sudah jadi tho?"

"Sudah Pak, semuanya sudah saya perbaiki sesuai permintaan Bapak tempo hari" Tresno menjawab sambil membuka gulungan kertas gambar dan menunjukkannya ke Bapak.

Si Bapak manggut-manggut selang beberapa menit terlontar pertanyaan, "Ini berarti gambar rumah yang ke 20 ya No, yang kamu tunjukkan ke saya?"

"Injih Pak, leres. Ini gambar yang ke 20. Kalau diurut, berarti ada 20 kali revisi"

"Gambar yang lama masih kamu simpen tho?"

"Masih Pak, semua gambarnya masih saya simpan. Emange kenapa tho Pak?" Tresno penasaran.

"Kumpulkan semua gambar-gambar itu, terus wujudkan dalam bentuk rumah yang sesungguhnya. Sebenare, saya iku lagi nggawe bisnis property. Mangkane, saya nyuruh koen nggawe gambare sampe bolak balik. Iku bukan revisi. Aku ngerti iku gambare wes bener. Mung aku pengen setiap omah iku bedho, special. Ngko, koen dadi manajer pembangunane. Iki gajimu plus uang tambahan atas kerja kerasmu" sambil menaruh amplop coklat yg begitu tebal ke tangan Tresno.

------

Entah apa yang ada di pikiran si Tresno. Selama perjalanan dia hanya memeluk tabung yang biasanya digunakan untuk memasukkan kertas gambar. Kini di dalam tabung itu berisi amplop coklat tebal berisi uang. Jumlahnya? Tresno belum berani menghitungnya.


Sesampai di rumah, dibuka perlahan amplop coklat itu. Dari dalam telah mengintip kertas berwarna kemerahan dan berwarna biru. Uangpun dikeluarkan dari dalam amplop, dan wow! Banyak sekali. Tresno hanya termangu menganga sejadi-jadinya.

"Mboooookkkeeeeee...!!! anakmu entuk rejeki akeh..!" Teriak Tresno dari dalam kamarnya. Ibunya yang dari dapur lari terbirit-birit menghampiri kamar anak semata wayangnya.


"Duh Gusti, koen maling neng ndhi tho le...?? Simbok ngerti, koen dhurung ono gawean sing tetep. Nanging ojo nyolong tho le.." teriak Ibu Tresno sambil mengelus dadanya dengan mata yang bercucuran air mata.

"Mbok, Tresno ndak nyolong utowo maling. Tresno entuk duit iki soko Bapak sing njaluk tulung digambarke omah" mencoba menenangkan si Ibu yang sesenggukan.

"Saiki, anakmu dadi manajer pembangunan Mbok" cerita Tresno ke Ibu yang ia sayangi.


Nama Dagangan