January 17, 2014

(semoga) tidak banjir, Jakarta

Yohooo whaaaaaaaatttzaaaapp guys..?

Menjelang imlek  alias tahun baru cina, cuaca dalam seminggu terakhir ini hujan dan mendung terus. Sepertinya matahari sedang cuti menjelang tahun baru cina. Tapi kan, matahari bukan barang dari Cina? Ah sudahlah kan cuma becanda, hehe.


Mari kita berdoa semoga tahun ini tidak terjadi banjir dahsyat seperti tahun lalu, yang sempat melumpuhkan Jakarta selama satu hari penuh. Semua akses jalan darat menuju Jakarta, terputus. KRL dari Bogor menuju Jakarta juga lumpuh total. Karena beberapa stasiun, jalur rel sudah terendam. KRL dari Bogor pun hanya sampai stasiun tertentu kemudian balik lagi menuju Bogor. Bagaimana dengan menggunakan jalan raya? Ini lebih parah, semua kendaraan stuck, bahkan untuk putar balik pun sudah tidak bisa. Jalan tol yang hanya boleh digunakan untuk kendaraan roda empat atau lebih, saat itu sepeda motor diijinkan melenggang melalui jalur tol dalam kota karena kemacetan yang semakin parah. Banyak yang berhasil samapai kantor, tapi mereka kebingungan untuk pulang kembali ke rumah. Karena semua akses benar-benar lumpuh total. Jalan protokol di Jakarta pun banjir rata-rata setinggi lutut orang dewasa dan sepinggang orang dewasa.


Indonesia, semua dipusatkan di Jakarta. Paling gampang melumpuhkan Indonesia. Jakarta lumpuh, negara lumpuh. Istana kepresidenan juga gak bisa lolos dari banjir. Presiden pun nyeker. Artinya gak fokus kerja men, sibuk ngurusin banjir (ini kerja juga sih). Padahal jadwal hari itu sang presiden akan bertemu dengan tamu kenegaraan dari Argentina.

banjir bos..!
 
Ya, uang membuat segalanya dan semuanya menjadi lambat. Semua gara-gara uang. Gak punya uang, semua orang pada berlarian ngejer dan berusaha dapetin uang yang banyak. Pas udah daet uang banyak, malah dipakai jalan-jalan. Bukan dipake lari-larian, hehe *becanda*


Banjir di Jakarta selalu dikaitkan dengan air kiriman dari Bogor. Bogor gak pernah ngirim air cuy, Bogor itu letak geografisnya lebih tinggi dari Jakarta. Air itu mengalir dari hulu ke hilir, tinggi ke rendah. Jadi kalo ada air yang mengalir, itu bukan kiriman. Udah kodratnya begitu.

Dulu nih ye, klo gw gak salah-salah baca mengenai sejarah. Waktu jaman kompeni, Jakarta memang pernah dilanda banjir hebat. Sehingga, gubernur saat itu yang berasal dari kumpeni membuat bendungan di Manggarai yang berfungsi mengatur debit air yang mengalir datang dari luar Jakarta. Hingga akhirnya perkembangan jaman, daerah aliran sungai yang seharusnya tidak boleh diganggu malah dijadikan tempat tinggal dan tempat pembuangan sampah. Banjir datang, dibilang air kiriman dari Bogor. Kiriman bisa di cancel atau dialihkan. Nah klo air dari Bogor, gak bisa di-cancel atau dialihkan. Air yang mengalir akan bermuara ke laut juga, nah Jakarta adalah yang paling dekat dengan laut. Mau gak mau harus menerimanya. Jakarta harus melakukan perawatan dan menjaga "jalur" aliran air yang datang dari Bogor hingga mencapai laut.